Bunuh Diri di Bangku SD, Dakwaan Moral Terhadap Sistem Negara

KERTAS UNTUK MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU MAMA RELAKAN SAYA PERGI JANGAN MENANGIS MAMA

MAMA SAYA PERGI JANGAN MENANGIS DAN JANGAN CARI SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA


Oleh : Felix Baghi, Flores


Kasus bunuh diri tragis seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar peristiwa kriminal atau kegagalan individual keluarga miskin.


Ia adalah akta dakwaan moral terhadap sistem pendidikan nasional dan tatanan politik-sosial yang selama ini mengklaim diri "pro-rakyat", namun gagal melindungi yang paling rapuh : anak-anak miskin.


Reaksi cepat DPR melalui rencana pemanggilan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, patut di catat, tetapi tidak boleh berhenti sebagai ritual politik pascatragedi.


Pernyataan bahwa kasus ini merupakan "tamparan keras" bagi pemerintah terdengar ironis, sebab tamparan ini telah lama terjadi, berulang, dan sistematis. Yang berubah hanya korban dan lokasi, bukan struktur ketidakadilan yang melahirkannya.


Tragedi YBR (10) mengungkap wajah pendidikan yang telah lama kehilangan nuraninya. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembebasan justru berubah menjadi arena seleksi sosial, di mana sepatu, seragam, dan simbol-simbol administratif lebih menentukan martabat seorang anak daripada haknya untuk belajar.


Ketika seorang anak memilih kematian karena tak mampu membeli (misalnya), maka yang sesungguhnya bangkrut bukan ekonomi keluarganya, melainkan etika negara.


Penekanan DPR pada evaluasi dana BOS manyingkap problem yang lebih dalam : negara terjebak pada logika administratif dan akuntansi, seolah penderitaan manusia dapat di selesaikan dengan laporan keuangan.


Padahal, yang runtuh bukan hanya mekanisme penyaluran dana, melainkan paradigma pendidikan yang tunduk pada logika pasar, kompetisi, dan pencitraan, bukan pada keadilan sosial dan humanisme.


Pernyataan aparat bahwa motif bunuh diri dipicu faktor ekonomi seharusnya dibaca lebih radikal : kemiskinan di Indonesia bukan sekadar kondisi material, melainkan kekerasan struktural. Ia diciptakan dan dipelihara oleh tatanan politik yang mengabaikan wilayah pinggiran, membiarkan pendidikan sebagai proyek, bukan panggilan etis.


Dalam konteks ini, negara tidak bisa lagu berlindung di balik belasungkawa dan janji evaluasi. Setiap anak yang kehilangan nyawa karena kemiskinan adalah bukti bahwa sistem telah gagal total. Pendidikan yang membunuh harapan, bahkan nyawa seorang bocah adalah pendidikan yang lebih menyimpang dari tujuan kemanusiannya.


Tragedi YBR seharusnya mengguncang kesadaran kolektif bangsa ini : selama kemiskinan dianggap masalah privat dan pendidikan diperlakukan sebagai komoditas, maka kasus serupa hanya tinggal menunggu waktu.


Yang dibutuhkan bukan sekadar pemanggilan menteri, tetapi pembongkaran radikal atas sistem pendidikan dan tatanan politik yang terus mengorbankan anak-anak miskin atas nama pembangunan dan stabilitas.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Featured Video