PAUBOKOLBidikntt, Panen perdana jagung hibrida di Desa Paubokol, Kecamatan Nubatukan, pada 12 Februari 2026, menjadi penanda awal sekaligus ujian kebijakan pertanian Kabupaten Lembata.
Kehadiran Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq dalam panen dan penanaman kopi Columbia memperlihatkan ambisi pemerintah mendorong sektor primer ke arah usaha berbasis pasar dan investasi.
Namun, di balik seremoni lapangan, pertanyaan kuncinya adalah sejauh mana kesiapan kebijakan, pembiayaan, dan pasar berjalan serempak.
Kelompok Tani Peduli Paubokol beranggotakan 32 petani, memanen sekitar satu ton jagung glondongan dari lahan seluas 1,5 hektare dengan umur tanam tiga bulan.
Capaian ini memberi sinyal potensi produktivitas, tetapi masih terlalu kecil untuk menjadi indikator keberhasilan struktural.
Masalah klasik tetap mengemuka: kesinambungan pendampingan teknis, efisiensi biaya produksi, serta kepastian serapan dan harga yang kerap memutus rantai nilai petani.
Di titik inilah peran perbankan diuji lebih jauh. Pemerintah daerah mendorong lembaga keuangan masuk pada skema pembiayaan usaha tani, dari modal kerja hingga penguatan kelembagaan kelompok, agar produksi tidak berhenti di tahap panen.
Tanpa desain kredit yang adaptif dan terukur, integrasi pembiayaan berisiko kembali menjadi simbol kehadiran, bukan instrumen pengungkit skala usaha.
Klaim ini juga diuji konsistensinya dengan Program Nelayan Tani Ternak (NTT) yang ditargetkan menopang swasembada pangan berkelanjutan.
Penanaman kopi Columbia membuka peluang diversifikasi bernilai ekonomi lebih tinggi, namun menuntut peta jalan yang jelas: adaptasi varietas, standar pascapanen, pembiayaan jangka menengah, hingga kemitraan off-taker.
Panen Paubokol, pada akhirnya, adalah tolok ukur awal, apakah Lembata mampu menutup jurang antara produksi, pembiayaan, dan pasar, atau kembali terjebak pada optimisme seremonial tanpa daya dorong investasi yang nyata. KL

.png)