LEMBATABidikntt, NTT EXPRESS - Aliansi Expedisi Lembata (AXEL) dan Forum Parlemen Jalanan Lomblen (FORMALEN) akan melakukan aksi jilid II ke kantor Unit Pengelola Pelabuhan (UPP) Lewoleba dan kantor Bupati Lembata dalam waktu dekat.
Ke kantor UPP Kelas III Lewoleba, AXEL dan FORMALEN akan mempertanyakan sejauh mana proses pemberian izin sandar Ramp Door (breaching) di pelabuhan laut Lewoleba, setelah diusulkan pada 6 April lalu, dua hari sebelum aksi jilid I digelar.
Sementara ke kantor Bupati Lembata, AXEL dan FORMALEN akan menagih janji Pemda Lembata terkait solusi jangka pendek yang diusulkan dua kelompok massa ini dalam aksi demonstrasi 8 April lalu, maupun surat penegasan sikap yang diterima Pemda Lembata pada 15 April.
"Selain menuntut agar kapal ferry bisa sandar Ramp Door di pelabuhan umum Lewoleba, waktu itu kami juga tuntut dibangun plengsengan. Namun setelah survei di beberapa lokasi tidak memungkinkan maka tanggal 15 April itu kami kembali surati Pemda untuk melobi PT. Pelni menambah rute kapal Roro side Ramp door seperti KM. Egon ke Lembata. Itu solusi taktis sekaligus kebutuhan jangka panjang", ungkap Heri Tanatawa, juru bicara AXEL dan FORMALEN kepada wartawan usai rapat front di lapangan Harus, Kamis malam, 23 April 2026.
Menurut Heri, pihak AXEL dan FORMALEN telah menyediakan data dukung setelah menyurati Pemerintah Kabupaten Lembata. Namun sampai saat ini belum ada informasi lanjutan soal tawaran ini.
Heri menjelaskan, Pemerintah sepertinya kurang paham dengan alur distribusi kebutuhan dagang di Lembata sehingga lambat dalam mengeksekusi solusi jangka pendek maupun jangka panjang yang ditawarkan AXEL dan FORMALEN.
"Kiblat dagang kita di Lembata ini tersentral di dua titik yaitu didominasi Maumere-Surabaya. Satunya lagi yaitu Kupang, sehingga jika akses ke dua titik ini tersendat, maka harga barang dengan sendirinya naik,” jelasnya.
Lanjutnya, saat ini harga kontainer naik dari 13,5 juta menjadi 16 juta per kontainer, buruh darat 1,1 juta, buruh laut 1,6 juta, harga sewa kendaran 300 ribu rupiah, ongkos masuk pelabuhan 30 ribu rupiah sehingga totalnya kurang lebih 19 juta rupiah dan berpengaruh signifikan terhadap kenaikan harga barang.
Karena itu usulan untuk mendekati PT. PELNI agar menambah rute kapal Roro ke Lembata menjadi solusi jangka pendek sekaligus kebutuhan jangka panjang yang mesti diupayakan secara serius oleh Pemda Lembata.
"Kan Pemda tinggal bawa orang PELNI dari sini, bersama Pimpinan DPRD ke Jakarta lalu datangi langsung PT. PELNI, lalu kemudian Kementerian Perhubungan untuk minta tambah rute KM. Egon dari Waingapu, Kupang, Larantuka, Lewoleba. Tanya langsung juga soal izin sandar Ramp Door ferry di pelabuhan umum, kan simpel" ujar Heri.
Sementara itu, Koordinator Umum AXEL dan FORMALEN, Ciprianus Pito Lerek menjelaskan, aksi jilid II kali ini dibarengi dengan membuka pasar ternak, hasil komoditi, hasil laut milik pekerja Expedisi di depan kantor Bupati. Aksi membuka pasar ternak sejumlah hasil lainnya ini dilakukan sebagai upaya bertahan di tengah ketidakpastian.
"Rekan-rekan pekerja ekspedisi dan pedagang antar pulau ini dibiarkan menderita terlalu lama, solusi yang kita tawarkan juga setengah hati dijalankan. Bahkan ke Jakarta untuk dekati PT. Pelni dan Kemenhub saja Pemda beralasan tidak punya anggaran untuk perjalanan dinas. Ya jadi kalau mau, AXEL dan FORMALEN siap patungan untuk danai", tawar Pito.
Sementara itu, Ismail Langoday perwakilan AXEL menjelaskan, yang dibutuhkan saat ini adalah solusi jangka pendek agar aktivitas bongkar muat kendaraan roda empat atau lebih di Lembata tetap berjalan, bukan menunggu perbaikan pelabuhan ferry Waijarang.
Menurutnya, kalau plengsengan tidak jadi dibangun maka Pemda Lembata fokus kawal ijin sandar Ramp Door ferry di pelabuhan umum dengan mendatangi Dirjen Kementerian Perhubungan laut, juga ke PT. Pelni untuk minta penambahan rute kapal Roro, bukan menunggu pelabuhan Ferry selesai diperbaiki.
"Soal perbaikan pelabuhan Waijarang, kami sudah tau dari Desember 2025, mulai dikerjakan Mei 2026 selesainya kapan itu masih lama karena ini konstruksi dalam air. Lalu bagaimana dengan kami pekerja dan pemilik ekspedisi di Lembata yang mayoritas anak-anak muda ini? Berani buka lapangan kerja sendiri, berhutang jadi kalau tidak ada solusi jangka pendek, kendaraan kami ditarik leasing". kesal Ismael.
Data yang dihimpun, satu unit ekspedisi dapat mempekerjakan 3 sampai 5 orang. Artinya ada ratusan orang yang bekerja pada usaha jasa ini dan ribuan orang di belakang mereka. Saat ini di kabupaten Lembata terdapat puluhan kendaraan ekspedisi yang rutin setiap jadwal penyeberangan. Hampir sebagian dari puluhan kendaraan tersebut masih berstatus kredit.
Dalam rapat front membahas rencana aksi jilid II ini, banyak hal yang dibahas AXEL dan FORMALEN termasuk peluang bisnis yang akan bertunas jika pemerintah daerah dapat mendatangkan Kapal Roro dengan side Ramp door di Lembata.
Salah satunya adalah bisnis ternak ke pulau Sumba, sejalan dengan program Bupati dan Wakil Bupati. Sebab saat ini Pelabuhan singgah kapal Roro milik PT Pelni yaitu KM. Egon adalah pelabuhan Waingapu. KL


.png)