Mereka merayakan May Day dengan aksi sosial kerja bakti membersihkan lingkungan Pasar Ikan TPI Lewoleba dan penanaman anakan pohon pelindung jenis beringin serta pinang.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. "Kami ingin mengirim pesan penting kepada masyarakat Lembata untuk peduli dan merawat ibu bumi dengan baik," ujar Ketua Divisi Perikanan Kelautan SBSI Lembata, Hasan Guhir.
Aksi yang digelar sore hari itu melibatkan pengurus inti SBSI, didukung personil Polres dan Lapas Kelas III Lewoleba, serta satu kendaraan bak sampah dari Dinas Lingkungan Hidup.
Asisten III Bidang Administrasi Umum, Yohanes Berchmans Daniel Dai, juga turut hadir mewakili Bupati Lembata terjun langsung dalam aksi bersih-bersih dan penanaman anakan pohon pinang.
Hasan Guhir mengapresiasi kehadiran pemerintah. Ia mengakui bahwa kehadiran SBSI di Lembata masih tergolong baru. SBSI Lembata baru dideklarasikan pada 25 Maret 2026 dan SK kepengurusan baru diterima pada 24 April 2026.
"Masih terlalu bayi untuk mengungkapkan peran serikat dalam memberikan perlindungan dan advokasi kepada pekerja rentan," katanya jujur.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka. Hasan mengajak seluruh pekerja, baik buruh rumah tangga maupun di pertokoan, untuk bergabung dalam wadah SBSI. Ia menegaskan, kehadiran organisasi ini bukan sebagai musuh pemerintah, melainkan mitra strategis.
"Kami hadir untuk memperjuangkan nasib buruh sekaligus menjadi wadah advokasi bagi mereka yang diperlakukan tidak adil oleh majikan," tegasnya.
Pernyataan itu diperkuat oleh Ketua SBSI Lembata, Matheus Ratu. Ia menyatakan bahwa prioritas saat ini adalah memperkuat struktur organisasi secara internal, menjalin silaturahmi dengan pemerintah, sebelum kemudian fokus pada advokasi hak-hak buruh yang selama ini terabaikan, mulai dari upah layak hingga perlindungan kesehatan dan hari tua.
15 Tuntutan yang Diajukan
Setelah kegiatan bersih-bersih dan penanaman pohon selesai, acara ditutup dengan pembacaan 15 tuntutan May Day 2026 yang disampaikan kepada pemerintah daerah.
Tuntutan tersebut mencakup isu nasional maupun lokal, antara lain: Pertama, Penghapusan sistem outsourcing. Kedua, Upah layak sesuai standar jam kerja. Ketiga, Pengesahan RUU Ketenagakerjaan baru sesuai Putusan MK No. 168/2024.
Keempat, Penolakan dan penegakan hukum terhadap union busting. Kelima, Penyelesaian kasus tenaga kerja di Lembata. Keenam, Penindakan tegas terhadap pengusaha nakal. Ketujuh, Pembentukan regulasi sektoral. Kedelapan, Peningkatan lapangan kerja dan kualitas SDM.
Kesembilan, Penguatan Dewan Pengupahan dan Tripartit. Kesepuluh, Solusi cepat masalah bongkar muat kendaraan. Kesebelas, Penindakan oknum yang membekingi BBM ilegal. Kedua belas, Penertiban penggunaan barcode untuk mengurai antrian BBM.
Ketiga belas, Penertiban kendaraan perusahaan yang pakai BBM subsidi. Keempat belas, Pemeriksaan pajak perusahaan dengan NIB tidak sesuai fakta. Kelima belas, Peningkatan profesionalitas BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan.
Merespons kegiatan dan tuntutan tersebut, Asisten III Yohanes Berchmans Daniel Dai menyampaikan apresiasi tinggi. Menurutnya, tuntutan yang diperjuangkan merupakan hal yang baik karena disampaikan secara santun.
May Day bukan hanya momentum menyuarakan aspirasi, tapi juga panggilan untuk memperkuat sinergi antar elemen masyarakat.
Tema 'Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja' dinilai sangat relevan. "Walaupun baru seumur jagung, kepedulian SBSI terhadap sosial dan lingkungan sangat tinggi. Ini menunjukkan mereka tidak hanya bicara advokasi, tapi juga peduli pada masyarakat sekitar," ujarnya.
Pemerintah siap menerima SBSI sebagai mitra. Namun, ia berharap kepengurusan yang belum sepenuhnya terisi segera diselesaikan agar program kerja dapat berjalan lancar.
"Saya berharap SBSI Lembata ke depan bisa berjalan optimal dan menjadi wadah yang ikut berkontribusi membangun daerah kita," tutupnya.
Aksi perdana ini menjadi catatan penting, perjuangan buruh tidak harus selalu berupa bentrokan, tapi juga bisa melalui karya nyata dan dialog yang konstruktif. (Prokompimkablembata)
LEWOLEBA, Prokompimkablembata – Berbeda dengan peringatan Hari Buruh Internasional yang sering identik dengan unjuk rasa, Dewan Pengurus Cabang (DPC) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Kabupaten Lembata memilih jalur berbeda pada 1 Mei 2026.
Mereka merayakan May Day dengan aksi sosial kerja bakti membersihkan lingkungan Pasar Ikan TPI Lewoleba dan penanaman anakan pohon pelindung jenis beringin serta pinang.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. "Kami ingin mengirim pesan penting kepada masyarakat Lembata untuk peduli dan merawat ibu bumi dengan baik," ujar Ketua Divisi Perikanan Kelautan SBSI Lembata, Hasan Guhir.
Aksi yang digelar sore hari itu melibatkan pengurus inti SBSI, didukung personil Polres dan Lapas Kelas III Lewoleba, serta satu kendaraan bak sampah dari Dinas Lingkungan Hidup.
Asisten III Bidang Administrasi Umum, Yohanes Berchmans Daniel Dai, juga turut hadir mewakili Bupati Lembata terjun langsung dalam aksi bersih-bersih dan penanaman anakan pohon pinang.
Hasan Guhir mengapresiasi kehadiran pemerintah. Ia mengakui bahwa kehadiran SBSI di Lembata masih tergolong baru. SBSI Lembata baru dideklarasikan pada 25 Maret 2026 dan SK kepengurusan baru diterima pada 24 April 2026.
"Masih terlalu bayi untuk mengungkapkan peran serikat dalam memberikan perlindungan dan advokasi kepada pekerja rentan," katanya jujur.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka. Hasan mengajak seluruh pekerja, baik buruh rumah tangga maupun di pertokoan, untuk bergabung dalam wadah SBSI. Ia menegaskan, kehadiran organisasi ini bukan sebagai musuh pemerintah, melainkan mitra strategis.
"Kami hadir untuk memperjuangkan nasib buruh sekaligus menjadi wadah advokasi bagi mereka yang diperlakukan tidak adil oleh majikan," tegasnya.
Pernyataan itu diperkuat oleh Ketua SBSI Lembata, Matheus Ratu. Ia menyatakan bahwa prioritas saat ini adalah memperkuat struktur organisasi secara internal, menjalin silaturahmi dengan pemerintah, sebelum kemudian fokus pada advokasi hak-hak buruh yang selama ini terabaikan, mulai dari upah layak hingga perlindungan kesehatan dan hari tua.
15 Tuntutan yang Diajukan
Setelah kegiatan bersih-bersih dan penanaman pohon selesai, acara ditutup dengan pembacaan 15 tuntutan May Day 2026 yang disampaikan kepada pemerintah daerah.
Tuntutan tersebut mencakup isu nasional maupun lokal, antara lain: Pertama, Penghapusan sistem outsourcing. Kedua, Upah layak sesuai standar jam kerja. Ketiga, Pengesahan RUU Ketenagakerjaan baru sesuai Putusan MK No. 168/2024.
Keempat, Penolakan dan penegakan hukum terhadap union busting. Kelima, Penyelesaian kasus tenaga kerja di Lembata. Keenam, Penindakan tegas terhadap pengusaha nakal. Ketujuh, Pembentukan regulasi sektoral. Kedelapan, Peningkatan lapangan kerja dan kualitas SDM.
Kesembilan, Penguatan Dewan Pengupahan dan Tripartit. Kesepuluh, Solusi cepat masalah bongkar muat kendaraan. Kesebelas, Penindakan oknum yang membekingi BBM ilegal. Kedua belas, Penertiban penggunaan barcode untuk mengurai antrian BBM.
Ketiga belas, Penertiban kendaraan perusahaan yang pakai BBM subsidi. Keempat belas, Pemeriksaan pajak perusahaan dengan NIB tidak sesuai fakta. Kelima belas, Peningkatan profesionalitas BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan.
Merespons kegiatan dan tuntutan tersebut, Asisten III Yohanes Berchmans Daniel Dai menyampaikan apresiasi tinggi. Menurutnya, tuntutan yang diperjuangkan merupakan hal yang baik karena disampaikan secara santun.
May Day bukan hanya momentum menyuarakan aspirasi, tapi juga panggilan untuk memperkuat sinergi antar elemen masyarakat.
Tema 'Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja' dinilai sangat relevan. "Walaupun baru seumur jagung, kepedulian SBSI terhadap sosial dan lingkungan sangat tinggi. Ini menunjukkan mereka tidak hanya bicara advokasi, tapi juga peduli pada masyarakat sekitar," ujarnya.
Pemerintah siap menerima SBSI sebagai mitra. Namun, ia berharap kepengurusan yang belum sepenuhnya terisi segera diselesaikan agar program kerja dapat berjalan lancar.
"Saya berharap SBSI Lembata ke depan bisa berjalan optimal dan menjadi wadah yang ikut berkontribusi membangun daerah kita," tutupnya.
Aksi perdana ini menjadi catatan penting, perjuangan buruh tidak harus selalu berupa bentrokan, tapi juga bisa melalui karya nyata dan dialog yang konstruktif. KL


.png)