Teriakan “Ruha Lale” dan “Lawa Do”: Kearifan Lokal Manggarai di Tengah Ancaman Gempa "Suara Peringatan dari Tradisi Leluhur"



MANGGARAIBidikntt, FLORES — Ketika bumi berguncang, kepanikan dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Rumah berderak, benda-benda berjatuhan, dan warga bergegas mencari tempat yang lebih aman. Dalam situasi seperti itu, kecepatan memberikan peringatan kepada orang-orang di sekitar menjadi sangat penting.


Di tengah perkembangan teknologi kebencanaan, masyarakat Manggarai memiliki warisan pengetahuan lokal yang menarik untuk kembali diperhatikan, yakni seruan “Ruha Lale!” dan “Lawa Do!”.


Bagi masyarakat yang mengenalnya, kedua seruan tersebut merupakan bagian dari respons sosial ketika menghadapi keadaan yang membahayakan. Teriakan itu dapat menjadi tanda agar warga segera tersadar, waspada, bergerak, dan saling menyelamatkan.


Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa jauh sebelum hadirnya telepon pintar, sirene, dan sistem peringatan berbasis teknologi, masyarakat telah memiliki cara sederhana untuk menyampaikan informasi bahaya secara cepat.


Ketika Suara Menjadi Peringatan


Dalam kondisi darurat, tidak semua orang sempat membuka telepon genggam atau membaca informasi peringatan. Suara manusia yang terdengar dari rumah ke rumah atau dari lingkungan sekitar dapat menjadi pemicu awal bagi warga untuk segera bertindak.


Seruan “Ruha Lale!” dan “Lawa Do!” dalam konteks kesiapsiagaan dapat dipahami sebagai bagian dari budaya saling mengingatkan. Pesannya sederhana: jangan diam ketika bahaya datang.


Kekuatan utama dari kearifan lokal tersebut bukan semata-mata pada kata-kata yang diteriakkan, melainkan pada semangat kolektif di baliknya. Ketika seseorang memberikan peringatan, warga lain diharapkan merespons dan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.


Anak-anak, lansia, maupun warga yang berada dalam kondisi rentan tidak dibiarkan menghadapi situasi darurat seorang diri.


Kearifan Lokal di Tengah Teknologi Modern


Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam sistem mitigasi bencana. Informasi mengenai gempa dan potensi tsunami kini dapat diperoleh melalui berbagai saluran resmi, termasuk informasi dari BMKG dan pemerintah daerah.


Namun, teknologi dan kearifan lokal tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan.


Keduanya justru dapat saling melengkapi.


Ketika gempa terjadi, masyarakat tetap perlu mengikuti prinsip keselamatan dasar: melindungi kepala, menjauh dari benda yang berpotensi jatuh, serta segera meninggalkan bangunan yang rusak atau berisiko apabila kondisi memungkinkan.


Bagi masyarakat di wilayah pesisir, gempa yang kuat atau berlangsung lama juga harus menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan tsunami dan mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang.


Dengan demikian, seruan tradisional dapat berfungsi sebagai pengingat awal di tingkat komunitas, sementara informasi resmi dan ilmu kebencanaan menjadi dasar pengambilan keputusan.


Jangan Biarkan Pengetahuan Leluhur Hilang


Modernisasi tidak seharusnya membuat generasi muda kehilangan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.


Kearifan lokal dapat menjadi bagian dari pendidikan kebencanaan berbasis masyarakat. Anak-anak dan generasi muda Manggarai perlu mengenal berbagai pengetahuan lokal yang berkaitan dengan keselamatan, termasuk memahami konteks dan fungsi seruan yang digunakan masyarakat ketika menghadapi bahaya.


Jika dikembangkan secara tepat, pengetahuan tersebut bahkan dapat menjadi bagian dari simulasi kebencanaan di tingkat kampung.


Misalnya, ketika terjadi gempa, warga memiliki kesepakatan mengenai siapa yang memberikan peringatan, siapa yang membantu anak-anak dan lansia, siapa yang memastikan kondisi lingkungan, serta siapa yang memantau informasi resmi.


Dengan pola seperti itu, sebuah teriakan tidak berhenti sebagai suara kepanikan, tetapi berubah menjadi pemicu tindakan bersama.


Dari Teriakan Menjadi Budaya Siaga


Bencana mengajarkan bahwa keselamatan bukan hanya persoalan individu. Kecepatan seseorang menyelamatkan diri juga dapat menentukan keselamatan orang lain.


Karena itu, semangat yang terkandung dalam kearifan lokal seperti “Ruha Lale” dan “Lawa Do” layak ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: membangun budaya siaga dan saling menjaga.


Teknologi dapat memberikan informasi. Sistem peringatan dini dapat memberi waktu untuk bersiap. Namun, di tingkat lingkungan dan keluarga, kepedulian manusia tetap memiliki peranan penting.


Ketika bumi berguncang, jangan diam.


Bangunkan orang di sekitar. Berikan peringatan. Bergerak menuju tempat aman. Bantu mereka yang membutuhkan. Dan tetap ikuti informasi resmi dari pihak berwenang.


“Ruha Lale!” dan “Lawa Do!” bukan sekadar suara dari masa lalu. Dalam konteks kesiapsiagaan, keduanya dapat menjadi pengingat bahwa masyarakat Manggarai memiliki semangat kolektif untuk menghadapi bahaya.


Sebab ketika bencana datang, teknologi dapat memberikan peringatan, tetapi kepedulian dan kesiapsiagaan masyarakatlah yang membantu menyelamatkan sesama. (RONALD)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Featured Video