NagawutungBidikntt, 13 April 2026, Pemerintah Kabupaten Lembata menunjukkan respons cepat terhadap bencana gempa bumi yang terjadi pada 8–10 April 2026 di Desa Babokerong, Kecamatan Nagawutung, dengan turun langsung meninjau kondisi rumah-rumah warga yang terdampak.
Kunjungan ini dipimpim langsung oleh Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir, S.Sos bersama Wakil Ketua II DPRD Lembata, Fransiskus Gewura, S.Ikom, serta didampingi oleh pimpinan dan perwakilan OPD terkait, Camat Nagawutung dan Kepala Desa Babokerong. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kondisi riil di lapangan sekaligus mempercepat langkah penanganan pascabencana.
Camat Nagawutung, Vitalis Hubetus Wajo, S.Sos menyampaikan apresiasi atas kehadiran pemerintah daerah yang dinilai sigap merespons situasi. Ia menegaskan bahwa koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten telah berjalan sesuai mekanisme, termasuk pelaporan awal dan identifikasi dampak di lapangan.
“Kami berterima kasih atas perhatian dan kehadiran langsung Wakil Bupati. Ini menjadi motivasi bagi kami di tingkat kecamatan dan desa untuk terus memperkuat koordinasi dan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Lembata, Fransiskus Gewura, S.Ikom menyampaikan keprihatinan atas dampak yang dirasakan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kehadiran pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, merupakan wujud tanggung jawab bersama dalam situasi darurat.
“Bencana adalah peristiwa yang tidak kita harapkan, namun kehadiran pemerintah di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa negara hadir, tidak hanya dalam kondisi normal tetapi juga saat masyarakat menghadapi kesulitan,” tegasnya.
Dari sisi teknis, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lembata, Yohanes Gregorius S. Demo, ST. MM menjelaskan bahwa gempa yang terjadi tergolong gempa tektonik dengan magnitudo relatif kecil, namun tetap berdampak pada sejumlah bangunan warga. Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar kerusakan dipengaruhi oleh kondisi konstruksi rumah yang belum tahan gempa.
BPBD telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah desa dan tim reaksi cepat (TRC) untuk pengumpulan data. Data tersebut akan menjadi dasar pengajuan bantuan, baik melalui APBD maupun skema Dana Siap Pakai dari BNPB.
“Saat ini kami masih melakukan pendataan lanjutan. Ketepatan dan kelengkapan data sangat menentukan proses pengajuan bantuan ke tingkat pusat,” jelasnya.
Perwakilan masyarakat, Bapak Muchtar dalam kesempatan tersebut menyampaikan kondisi riil yang dialami warga, termasuk kerusakan rumah. Masyarakat juga berharap adanya solusi konkret, terutama terkait bantuan dan edukasi pembangunan rumah tahan gempa.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir, S.Sos menegaskan bahwa pemerintah akan mengedepankan langkah cepat, terukur, dan berbasis data dalam penanganan pascabencana. Ia menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman bagi masyarakat sebagai prioritas utama.
“Rasa aman adalah kebutuhan dasar. Ketika itu hilang, maka kualitas hidup masyarakat ikut terganggu. Karena itu, pemerintah hadir untuk memastikan ada solusi yang nyata,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wabup Nasir menegaskan bahwa pemerintah daerah akan segera menyusun langkah strategis, termasuk percepatan pengumpulan data sebagai syarat utama pengajuan bantuan ke pemerintah pusat.
Beliau juga mengingatkan bahwa proses pengajuan Dana Siap Pakai memiliki batas waktu yang ketat, sehingga koordinasi lintas sektor harus dilakukan secara cepat dan akurat.
Selain itu, Wabup Nasir juga mendorong penerapan konsep pembangunan rumah tahan gempa sebagai bagian dari mitigasi jangka panjang, mengingat wilayah Lembata merupakan daerah rawan bencana.
Menutup arahannya, Wabup Nasir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, serta aktif berkoordinasi dengan pemerintah dalam setiap perkembangan situasi.
“Kekuatan kita yang paling besar adalah solidaritas. Dengan kebersamaan dan komunikasi yang baik, kita bisa melewati situasi ini,” pungkasnya.
Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Lembata dalam memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terukur, dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan masyarakat. KL


.png)